Postingan

Menampilkan postingan dengan label Loorie Moore

Petunjuk Menjadi Penulis - Lorrie Moore

Petunjuk Menjadi Penulis Lorrie Moore  Penerjemah: Dinten - Ngulikata Pertama-tama, cobalah untuk menjadi sesuatu, apapun itu, yang lainnya. Bintang film/astronot. Bintang film/misioner. Bintang film/guru TK. Penguasa dunia. Gagallah segagal-gagalnya. Lebih bagus lagi kalau kau gagal pada usia sedini mungkin—katakanlah, empat belas tahun. Sedini mungkin, dibutuhkan kekecewaan yang hebat supaya pada usia lima belas tahun kau dapat menulis rangkaian panjang haiku mengenai hasrat yang kandas. Ibarat kolam, pohon sakura yang mekar, embusan angin menerpa sayap pipit yang meninggalkan gunung. Hitung ada berapa suku kata. Tunjukkan pada ibumu. Dia tegar dan andal. Putranya di Vietnam dan suaminya kemungkinan punya hubungan gelap. Dia percaya warna cokelat dapat menyembunyikan noda. Dia akan melihat tulisanmu sepintas, lalu kembali padamu dengan tatapan sekosong lubang donat. Dia akan berkata: “Bagaimana kalau kau mengosongkan bak cuci piring?” Palingkan muka. Masukkan garpu...

Cara Berbicara pada Ibu - Lorrie Moore

Cara Berbicara pada Ibu Lorrie Moore  Penerjemah: Dinten - Ngulikata 1982. Bertahun-tahun sudah sejak kepergiannya. Gumamkan, “Apa?” “Hah?” “Diamlah”, di dekat kulkas yang tengah dimatikan. Benda itu berkeriat-keriut seakan tengah kesakitan, mengerang, sampai bongkahan es terakhir runtuh dari langit-langit freezer , seakan takluk. Bermimpilah, dan di dalam mimpimu itu bermunculan bayi-bayi yang tingkahnya seperti anjing dachshund , segembul balon udara pada perayaan Thanksgiving, melayang-layang di dekat puncak pohon. Operasi penanaman jantung buatan permanen dari poliuretan dilakukan untuk pertama kalinya. Penghuni lantai atas tengah memainkan rekaman lagu “You’ll Never Walk Alone”. Sekarang “Oklahoma!” yang diputar. Mestilah mereka memiliki albumnya Rodgers dan Hammerstein [1]. 1981. Di kendaraan umum, para ibu dengan malaikat kecil mereka yang lembut dan gembil menatapmu. Wajah mereka menyorotkan rasa iba yang bertubi-tubi. Malaikat-malaikat kecil berbaju...

Kau Juga Jelek - Lorrie Moore

Kau Juga Jelek Lorrie Moore  Penerjemah: Dinten - Ngulikata Sesekali kau mesti keluar dari kota-kota di Illinois yang bernama lucu itu: Paris, Oblong, Normal. Pernah, sementara Dow Jones [1] menurunkan dua ratus berita pokok, sebuah koran lokal memajang judul besar-besar: “Pria Normal Menikahi Wanita Oblong”. Mereka juga tahu apa yang pokok. Sungguh! Tapi sesekali kau mesti keluar sebentar saja, sekalipun hanya melintasi perbatasan Terre Haute untuk menonton film. Di luar Paris, di tengah sebidang lahan yang luas, terpencar beberapa bangunan yang merupakan sebuah kampus ilmu-budaya kecil bernama Hilldale-Versailles. Di sana sudah tiga tahun ini Zoë Hendricks mengajar Sejarah Amerika. Dia mengajar “Revolusi dan Perkembangannya” kepada mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua, dan setiap tiga semester ada seminar jurusan bagi mahasiswa tingkat akhir. Kendati hasil penilaian mahasiswa terhadap dirinya keliru selama satu setengah tahun terakhir ini— Profesor Hendricks ser...

Panduan Menghadapi Perceraian untuk Anak-anak - Lorrie Moore

Panduan Menghadapi Perceraian untuk Anak-anak Lorrie Moore  Penerjemah: Dinten - Ngulikata Bubuhkan lebih banyak garam ke berondong jagung. Ibumu akan membutuhkannya, tiap kali dia tersentuh oleh adegan di mana Inger Berman hampir mati sementara tubuhnya tampak memanjang berkat trik kamera. Terpikir: astaganaga, mulai lagi deh Ibu narikin tisu. Ibumu akan bilang terima kasih sayang ketika kau menghampirinya lambat-lambat dari sudut ruangan, dengan mengenakan selop dan mantel, ke ruang tengah sembari membawa mangkok-yang-dulunya-biasa-digunakan-Nenek-untuk-wadah-salad yang terisi penuh. Aku sendiri yang bikin lo, ingatkan ibumu, dan secara tidak sengaja jatuhkan sebagian isi mangkok ke lantai. Mittens akan memainkan tumpahan itu. Mmmmm, enak juga garamnya banyak begini, ibumu akan mengunyah dan tersenyum lembut. Beri tahu ibumu kalau suster di sekolah, sewaktu selesai menonton bareng film tentang pubertas, pernah bilang garam itu tidak baik untuk jantung. Puh...

Referensial - Loorie Moore

Referensial Loorie Moore  Penerjemah: Dinten - Ngulikata Untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun ini, mereka membicarakan hadiah ulang tahun apa yang pantas untuk putra perempuan itu, yang mengidap kelainan jiwa. Begitu sedikit barang yang boleh dibawa ke dalam ruangannya. Hampir semuanya dapat dijadikan senjata. Maka sering kali barang harus diserahkan di meja depan. Kalau ada permohonan, barulah barang itu dibawa ke dalam oleh petugas—yang akan terlebih dulu memeriksanya kalau-kalau dapat melukai. Pete membawa sekeranjang selai. Namun karena wadahnya berupa toples kaca, barang itu tidak diperbolehkan untuk dibawa masuk. “Aku lupa,” kata Pete. Toples-toples itu disusun berdasarkan warna, dari yang paling terang yaitu selai jeruk, beri, lalu ara, seakan-seakan isinya berupa urine milik orang yang sakitnya bertambah-tambah parah. Memang sebaiknya disita saja, pikir perempuan itu. Mereka akan mencari hadiah lainnya. Pete sudah hadir dalam kehidupan mereka selama enam tah...